Table headerTable cell 1
Table cell 2

Wisata Kuningan

CIREBON dan Indramayu telah mengalami masalah serius. Kota di pesisir utara Pulau Jawa ini kerap kekurangan air. Padahal air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting. Perannya dibutuhkan dalam berbagai hal. Mulai dari kebutuhan manusia, bercocok tanam, hingga proses produksi pabrik. Selama ini kebutuhan air Cirebon dan Indramayu sebagian besar dipasok oleh Kuningan. Tentunya kerjasama antar daerah di Ciayumajakuning harus terus ditingkatkan. Sehingga roda ekonomi di semua daerah dapat berjalan. Tentunya bermuara pada peningkatan kesejahteraan warganya.

Kelangsungan sumber air di Kuningan harus dijaga. Jangan sampai, air yang merupakan aset penting Kuningan hilang. Menjaganya sumber air tersebut dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan alam. Gunung tetap hijau dan pembangunan disesuaikan kondisi alam. Selanjutnya Kuningan jangan sampai menjadi daerah industri yang menggusur sumber daya alam. Jangan sampai ada pabrik besar yang menggusur sawah. Dan jangan sampai ada pusat perbelajaan yang menggusur hutan.

Untuk mengisi kas keuangan daerah Kuningan perlu memposisikan diri sebagai daerah wisata. Tentunya wisata yang ramah lingkungan. Sehingga mampu menjaga ketersediaan air, sebagai aset utamanya. Kuningan yang berada di lereng Gunung Ciremai ini memiliki banyak objek wisata memikat. Karakternya juga sangat beragam.Wisatawan dapat menikmati museum bersejarah, desa adat, taman purbakala, dan wisata air.

Jarak antar objek wisata juga sangat dekat. Sehingga dalam waktu beberapa hari wisatawan dapat menikmati semuanya. Sehingga sangat memudahkan bagi wisatawan yang mempunyai waktu terbatas. Untuk wisata sejarah, Kuningan punya Linggarjati. Gedung Perundingan Linggarjati yang merupakan saksi perjuangan bangsa Indonesia. Lokasinya berada di Desa Linggarjati Kecamatan Cilimus. Jarak dari pusat Kota Kuningan sekitar 14 km, dan 26 km dari kota Cirebon. Untuk wisata air, selain taman rekreasi Linggarjati Indah yang tak jauh dari Gedung Linggrajati, Kuningan juga memiliki Cibulan, Waduk Darma, Balong Darmaloka, Cigugur, Goa Maria, dan Telaga Remis, serta objek wisata Taman Purbakala.

Penasaran….??? Mari kita tengok satu-satu….

Linggarjati
Desa Linggarjati merupakan sebuah Desa kecil yang berada di salah satu wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Praktis desa kecil ini dikenal oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia dan dunia, pada saat dilaksanakannya Perjanjian Linggarjati, pada tanggal 10-13 November 1946. Perjanjian ini dianggap sebagai perjanjian yang sangat penting, karena berhubungan erat dengan eksistensi Pemerintah Indonesia dimata dunia pada waktu itu, baik secara De Facto dan De Jure dipertaruhkan.

Pada tanggal 24 Maret 1946 pecahlah peristiwa nasional yang menggetarkan dunia akibat terjadinya pembumihangusan kota yang kemudian dikenal sebagai “Bandung Lautan Api (BLA)”. Peristiwa ini selanjutnya mendorong terjadinya perang gerilya kota yang sangat menjengkelkan Sekutu (Inggris) karena para gerilyawan tidak dapat membedakan mana bule Inggris dan mana bule Belanda. Akhirnya, Sekutu yang dipercaya untuk membebaskan para tawanan perang dan pengembalian pasukan Jepang, memercayakan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mempersenjatainya dengan 3.000 pucuk senjata ringan. Peristiwa ini membuat NICA-Belanda amat berang kepada Sekutu dan selanjutnya menyarankan agar Belanda berbicara satu meja dengan pemerintah RI. Belanda yang akan ditinggalkan Sekutu di Indonesia akhirnya terpaksa menerima saran Sekutu dan selanjutnya terjadilah perundingan di Linggajati di Kuningan. Peristiwa ini menunjukkan bahwa NICA-Belanda harus mengakui de facto RI yang juga dikehendaki dunia internasional.

BLA yang menghasilkan pengakuan de facto RI ini sebenarnya merupakan perjuangan nasional sebab di samping sasarannya kemerdekaan nasional, para pejuangnya pun terdiri dari berbagai unsur bangsa Indonesia. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika semua peristiwa di atas dipelajari lagi secara oral history karena berbagai data dan informasi sejarah perjuangan masih banyak tersebar namun hanya terekam dalam ingatan. Demikian pula dengan kelima bangunan tempo doeloe yang memiliki rekaman sejarah lahirnya NKRI perlu pula direstorasi untuk kepentingan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan sekaligus mencerdaskan kehidupannya dan dapat dibina untuk sarana pendidikan, penelitian, serta kepariwisataan menyambut HUT ke-50 Konferensi AA.

Cibulan
Kolam ikan yang penuh dengan legenda adalah pemandaian air tawar Cibulan. Konon kabarnya kalau kita bisa menyentuh ikan-ikan yang terletak di dalam kolam, keberkahan akan selalu menyertai kita. Boleh percaya boleh tidak. Di sini, selain bisa berenang bersama ikan dewa kita juga dapat melihat tujuh sumur petilasan Prabu Siliwangi.


Waduk Darma
Kalau cuaca cerah, Waduk Darma view nya sangat indah…penasaran..lihat aja sendiri…..Waduk Darma terletak di pinggir jalan lintas Cirebon – Kuningan – Ciamis. Di sini juga wisatawan dapat menikmati keindahan panorama Gunung Ceremai. Berperahu dan merasakan hembusan angin gunung merupakan sensasi yang dapat dinikmati di Waduk Darma. Taman rekreasi yang dilengkapi panggung hiburan juga sangat cocok bagi wisata keluarga.

Balong Darmaloka
Sedangkan Balong Darmaloka merupakan wisata ziarah. Ia terkait penyebaran Islam sejak zaman Wali Songo.

Cigugur
Adapun Cigugur merupakan kawasan yang memegang teguh adat budaya leluhur. Salah satu kegiatan adatnya yang terkenal adalah seren taun. Itu merupakan upacara sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Di Cigugur juga terdapat kolam renang yang unik. Kita dapat renang bersama ikan kancra yang dianggap keramat. Ikan berjuluk ikan dewa ini terdapat pula di Balong Darmaloka dan pemandian Cibulan. Naik sedikit dari kolam renang, kita akan menjumpai sebuah tempat yang dijuluki Gunung Batu, yaa.. karena emang batu semua, tapi asyik lho…

Disini juga dulu aku menimba ilmu selama tiga tahun, yakni di MAN Cigugur, yang letaknya tidak jauh dari wisata kolam renang Cigugur.

Goa Maria
Dari cerita yang berkembang, di sekitar tempat ini pernah terlihat sosok Bunda Maria, makanya di sebutlah tempat ini dengan Gua Maria. Sebuah tempat teduh yang terletak dilereng Gunung Ciremai.

Talaga Reumis
Sedangkan Talaga Reumis menawarkan suasana khas alam pegunungan yang sejuk dan tenang. Nama telaga alami yang berada di lereng Gunung Ciremai itu berasal dari sejenis kerang yang hidup di sekitar telaga.

Taman Purbakala
Selain wisata sejarah, air dan alam, Kuningan juga memiliki objek wisata purbakala di Cipari Kec. Cigugur. Kawasan situs Cipari meninggalkan warisan manusia purba yang telah mengenal peradaban. Benda-benda prasejarah yang berusia ribuan tahun dapat kita temukan di sana. Di antaranya perkakas batu, gerabah, perunggu, menhir, undakan batu besar, fondasi bangunan, tempat penjualan, serta batu kubur.

- Wisata Kuningan

Obyek Wisata Waduk Darma Kab.Kuningan Jawa Barat

Waduk Darma


Alamat Desa Jagara Kec. Darma
Memiliki Luas Areal ± 425 Ha
dengan jarak dari Kota Kuningan ± 12 Km


Sarana dan Prasarana yang tersedia :
- Cottage
- Area parkir
- Mushola
- Kolam renang anak & Taman bermain anak
- Panggung pertunjukan
- Gazebo



Aktifitas yang dapat dilakukan oleh wisatawan adalah :
- Penelitian
- Photography
- Rekreasi
- Pleasure Walking
- Pertunjukan Keseni
an
- Olah raga berperahu
- Berkemah
- Fasilitas outbond yang menantang
- Rekreasi Memancing
- Obyek Wisata Waduk Darma Kab.Kuningan Jawa Barat

Ada Apa Dengan Nama "Kuningan"

Diterbitkan :
Tags: comment, page, post, rating, setting

Ada satu pertanyaan yang selalu menggelayut dalam pikiran, dan dengan suatu kerangka pemikiran yang sedemikian rupa (relatif ilmiah?) saya berusaha mencoba memberikan suatu jawaban atas pertanyaan tadi yang kiranya dapat diterima oleh nalar keilmuan yaitu berkenaan dengan penggunaan nama sebuah tempat yaitu KUNINGAN, sebagai nama satu daerah yang kini menjadi salah satu kabupaten di Jawa Barat. Sebenarnya sejak kapan sih nama Kuningan ini dipakai bila menilik sejarahnya?, seberapa lama atau tua?, pernah menjadi nama sebutan atau julukan apa saja Kuningan itu?, bagaimana bila dibandingkan dengan usia ketuaan dari nama daerah-daerah lainnya yang kini eksis di Jawa Barat sebagai nama kabupaten-kabupaten, sudah tuakah atau bahkan paling tuakah Kuningan itu? Kita akan coba membedahnya dalam pembicaraan kali ini.

Bila kita melihat sejarah daerah-daerah ibukota kabupaten di Jawa Barat, nama Kuningan yang sekarang termasuk salah satu Kabupaten di wilayah III, yaitu Jawa Barat sebelah timur bersama dengan Kab & Kodya Cirebon, Kab. Indramayu, dan Kab. Majalengka barangkali nama “Kuningan” telah lebih dulu disebut dalam sejarah sebagai daerah yang paling dulu ada. Demikian halnya dalam skala lebih luas di luar wilayah III Cirebon.

Di Jawa Barat ini lebih dari 20 kab/kod (yakni 26 kab/kod menurut data terakhir prop Jabar), yang masing-masing kabupaten/kotamadya ini tentunya punya latar sejarah perjalanan hidupnya masing-masing. Dan kalau kita membuka sejarah berdirinya tiap kabupaten/kotamadya yang ada di Jawa Barat ini (melalui search engine ke google dll.) akan nampak perbadingan angka tahun kapan suatu kabupaten/kodya dimaksud itu berdiri, misalnya: Kab. Cirebon – 1482, Kab. Bandung – 1641, Kab. Garut – 1813, Kab. Tasikmalaya – 1913, Kab. Ciamis – 1915 . Bahkan ada nama-nama kabupaten dalam sejarahnya itu pernah menggunakan nama yang berbeda, misalnya ada Timbanganten, Limbangan (Garut), Imbanagara, Galuh (Ciamis), Sukapura (Tasikmalaya), Caruban (Cirebon).

Selanjutnya bagaimana dengan Kuningan ?…… Menurut sumber Pemda kab. Kuningan bahwa titimangsa lahirnya Kab. Kuningan mengambil dari peristiwa pelantikan putera angkat Sunan Gunung Jati (Suranggajaya, putera Ki Gedeng Luragung) menjadi seorang Adipati (adipati = raja kecil) di Kuningan, yaitu tgl 1 September 1498. Penempatan & penetapan putera angkat Sunan Gunung Jati ini barangkali dapat dikatakan bahwa Kuningan saat itu berada di bawah pegaruh (kekuasaan) Kerajaan Islam Cirebon. Kemudian menurut pendapat Bpk. Sobana Hardjasaputra (Unpad) penetapan Kabupaten Kuningan seharusnya mengacu pada Peraturan No 23 th 1819 (staatsblad Hindia Belanda) yang menetapkan nama Kuningan sebagai nama satu dari lima Kabupaten di bawah naungan Keresiden Cirebon, yaitu: Cirebon, Maja, Bengawan Wetan, Kuningan, dan Galuh. Berarti berdasarkan staatblad bahwa th 1819 itulah sebagai awal berdirinya Kuningan sebagai nama Kabupaten (= pemerintahan daerah Tk II). Namun dalam hal ini, bukan mencari penetapan dasar hukum (de jure) tentang berdirinya Kuningan sebagai nama kabupaten yang akan kita tinjau, melainkan eksistensi penggunaan nama “KUNINGAN” itu sendiri sebagai nama daerah atau tempat secara de facto yang akan kita soroti.

Kalau kita merunut pada salah satu sumber sejarah yaitu naskah kuno Carita Parahiyangan, yang diperkirakan ditulis pada akhir masa pemerintahan Kerajaan Padjadjaran (1579/1580), naskah ini di dalamnya menuliskan dengan jelas kata-kata KUNINGAN sebagai nama suatu tempat atau daerah. Tempat bernama Kuningan ini berada dalam suatu lingkup keadaan yang digambarkan pernah eksis bersama dengan Galuh, Sunda, dan Galunggung; yaitu pada kurun waktu ketika raja Sanjaya mulai menguasai Kerajaan Galuh (abad ke-7 M). Berarti dari keterangan ini dapat diduga bahwa daerah bernama Kuningan itu sebenarnya telah ada pada abad ke-7 Masehi. Pada waktu itu di Kuningan ada pemerintahan bercorak kerajaan bernama Saunggalah yang diperintah Sang Seuweukarma atau Resiguru Demunawan. Bahkan disebutkan pula bahwa sebelum Demunawan berlangsung pemerintahan di Kuningan yang dipimpin Sang Prabu Wiragati (Sang Pandawa), bersama Sang Wulan dan Sang Tumanggal. Dari hal tersebut berarti bisa terjadi bahwa sebelum abad ke-7 M pun nama “Kuningan” sebenarnya telah ada atau eksis sebagai nama sebuah tempat yang menurut setting historisnya jelas berada di lokasi propinsi Jawa Barat sekarang.

Yang menjadi daya tarik untuk diungkapkan adalah tentang eksistensi nama “Kuningan” yang berarti usia ketuaannya sederajat atau satu level dengan nama “Galuh” dan “Galunggung”. Dalam perkembangan berikutnya 3 nama tempat ini mengalami “degradasi” yang berbeda, yakni nama “Kuningan” tetap abadi dipakai hingga menjadi nama kabupaten sekarang ini, sementara penggunaan nama “Galuh” dan “Galunggung” mengalami perubahan, yakni Galuh menjadi nama kabupaten Ciamis, dan Galunggung mejadi nama tempat (gunung) di Tasikmalaya sekarang ini.

Sementara itu dalam masa peralihan dari zaman Hindu ke zaman Islam, konon nama Kuningan pernah mendapat sebutan lain yaitu KAJENE yang diambil dari bahasa Jawa (?) yang artinya sama dengan “Kuning yang agung”. Namun sayang tidak diperoleh keterangan yang pasti berapa lama penggunaan nama Kajene ini dipakai dan pada masa pemerintahan siapa yang mengendalikan Kuningan saat itu.

Sayangnya memang belum ada sumber sejarah pendukung & pembanding lainnya, hanya sebatas keterangan naskah CP dan tradisi setempat. Namun walau bagaimanapun, isi naskah CP (sumber sejarah setempat, tidak sezaman) dan keterangan tradisi lokal tadi memberikan konstribusi yang besar dalam mengungkap sejarah raja dan kerajaan di Jawa Barat ini.
- Ada Apa Dengan Nama "Kuningan"

KUNINGAN : DENGAN AMANAT SEWAKA DARMA DARI PRABUGURU DARMASIKSA

PURWA WACANA

Ternyata berdasarkan data historis wilayah Kuningan mempunyai kedudukan yang sangat kuat dan mendasar dalam memberi warna pada karakter Urang Sunda/Jawa Barat. Berbahagialah kita yang kini masih berkesempatan untuk menyimak, menafakuri, dan mengamalkan kearifan lokal. Meskipun sedikit terlambat bagi kita untuk mengetahui nilai-nilai kearifan nenek moyang kita.

Dalam khazanah naskah kuno Tatar Sunda, dikenal sebuah naskah dengan nama SEWAKA DARMA atau AMANAT GALUNGGUNG atau NASKAH CIBURUY (tempat ditemukannya naskah tsb, di daerah Garut) dengan kode Kropak No. 632. Ditulis di atas 7 lembar daun nipah dengan menggunakan aksara Sunda. Siapakah Prabu Guru Darmasiksa dan apa isi amanatnya itu. Kita coba runut dalam wacana di bawah ini.

KERAJAAN SAUNGGALAH I (KUNINGAN)

Awal kisah di mulai dari wilayah yang sekarang dinamai Kabupaten Kuningan. Ketika itu disebut dengan nama Kerajaan Saunggalah I yang telah ada sejak awal abad ke 8 M. Diawali dengan Rajaresi Demunawan putera dari Rahiyang Sempakwaja dari Galunggung/Galuh. Dalam pandangan hirup Urang Sunda ektika itu bila seorang Raja bergelar Resiguru diyakini telah mampu membuat sebuah ajaran (visi, pandangan hidup) yang dijadikan acuan kehidupan masyarakatnya. Hal ini dibuktikan oleh salah seorang keturunannya yang melaksanakan ajaran tersebut, yaitu PRABUGURU DARMASIKSA (1175-1297 M, memerintah selama 112 tahun !) salah seorang raja di Saunggalah I (persisnya di desa Ciherang, Kadugede, Kuningan). Yang nantinya pindah ke Saunggalah II (di daerah Mangunreja, Tasikmalaya), selanjutnya menjadi raja Di Pakuan Pajajaran.

NILAI PANDANGAN HIDUP YANG TERKANDUNG DALAM AMANAT PRABUGURU DARMASIKSA

Prabuguru Darmasiksa inilah yang memberikan amanat kepada keturunan dan masyarakat Tatar Saunggalah/Tatar Sunda dengan diberi nama SEWAKA DARMA, intisarinya adalah:


  1. HALAMAN 1

    Pegangan Hidup:
    • Prabu Darmasiksa menyebutkan lebih dulu 9 nama-nama raja leluhurnya. Ini menandakan kesadaran akan sejarah diri.
    • Prabu Darmasiksa memberi amanat ini adalah sebagai nasihat kepada seluruh keturunannya dan semuanya.

  2. HALAMAN 2

    Pegangan Hidup:
    • Perlu mempunyai kewaspadaan akan kemungkinan dapat direbutnya kemuliaan (kewibawaan dan kekuasaan) serta kejayaan bangsa sendiri oleh orang asing.

    Perilaku Negatif:

    • Jangan merasa diri yang paling benar, paling jujur, paling lurus. Jangan menikah dengan saudara. Jangan membunuh yang tidak berdosa. Jangan merampas hak orang lain. Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah. Jangan saling mencurigai.

  3. HALAMAN 3

    Pegangan Hidup:
    • Harus dijaga kemungkinan orang asing dapat merebut kabuyutan (tanah yang disakralkan.
    • Bila terjadi perang, pertahankanlah kabuyutan yang disucikan itu.
    • Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing.
    • Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah dari pada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan / tanah airnya.

    Perilaku Negatif:

    • Jangan memarahi orang yang tidak bersalah. Jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada jamannya.

    Kandungan Nilai:

    • Hidup harus mempunyai etika.
    • Tanah kabuyutan, tanah yang disakralkan, bisa dikonotasikan sebagai tanah air (lemah cai, ibu pertiwi). Untuk orang Kuningan ya wilayahnya itulah tanah yang disucikannya. Untuk orang Sunda adalah Tatar Sunda-lah tanah yang disucikannya (kabuyutannya). Akhirnya seluruh persada bumi Pertiwi ini adalah tanah yang sakral bagi Bangsa Indonesia. Kesadaran akan keutuhan wilayah inilah yang kini disebut dengan kesadaran Geopolitis.
    • Siapa yang bisa menjaga tanah airnya akan hidup bahagia. Bisa dimaknai pula bahwa bila kita (bangsa Indonesia) tetap dapat menjaga dan berdaulat di Nusantara ini, maka kita akan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang.
    • Pertahankanlah eksistensi tanah air kita itu. Jangan sampai dikuasai orang asing. Demikian pula dengan kedaulatan tanah air Indonesia.
    • Alangkah hinanya seorang anak bangsa, jauh lebih hina dan menjijikan dibandingkan dengan kulit musang (yang berbau busuk) yang tercampak di tempat sampah (tempat yang hina dan berbau busuk ), bila anak bangsa tsb tidak mampu mempertahankan tanah airnya. Dalam masa sekarang adalah kesadaran nasionalisme.

  4. HALAMAN 4

    Pegangan Hidup:
    • Hindarilah sikap tidak mengindahkan aturan, termasuk melanggar pantangan diri sendiri.
    • Orang yang melanggar aturan, tidak tahu batas, tidak menyadari akan nasihat para leluhurnya, sulit untuk diobati sebab diserang musuh yang “halus”.
    • Orang yang keras kepala, yaitu orang yang ingin menang sendiri, tidak mau mendengar nasihat ayah-bunda, tidak mengindahkan ajaran moral (patikrama). Ibarat pucuk ilalang yang memenuhi padang.

  5. HALAMAN 5

    Pegangan hidup:
    • Orang yang mendengarkan nasihat leluhurnya akan tenteram hidupnya, berjaya. Orang yang tetap hati seibarat telah sampai di puncak gunung.
    • Bila kita tidak saling bertengkar dan tidak merasa diri paling lurus dan paling benar, maka manusia di seluruh dunia akan tenteram, ibarat gunung yang tegak abadi, seperti telaga yang bening airnya; seperti kita kembali ke kampung halaman tempat berteduh.
    • Peliharalah kesempurnaan agama, pegangan hidup kita semua.
    • Jangan kosong (tidak mengetahui) dan jangan merasa bingung dengan ajaran keutamaan dari leluhur.

  6. HALAMAN 6

    Pegangan Hidup:
    • Sang Raja Purana merasa bangga dengan ayahandanya (Rakeyan Darmasiksa), yang telah membuat ajaran/pegangan hidup yang lengkap dan sempurna.
    • Bila ajaran Prabu Darmasiksa ini tetap dipelihara dan dilaksanakan maka akan terjadi:

      - Raja pun akan tenteram dalam menjalankan tugasnya.

      - Keluarga/tokoh masyarakat akan lancar mengumpulkan bahan makanan.

      - Ahli strategi akan unggul perangnya.

      - Pertanian akan subur dan akan panjang umur.
    • Fungsi SANG RAMA (keluarga, yang dituakan) bertanggung jawab atas kemakmuran hidup.
    • Fungsi SANG RESI (cerdik pandai, ilmuwan), bertanggung jawab atas kesejahteraan.
    • Fungsi SANG PRABU (birokrat, termasuk unsur Trias Politica)) bertanggung jawab atas kelancaran pemerintahan yang berdasarkan hukum.

    Perilaku Negatif:

    • Jangan berebut kedudukan. Jangan berebut penghasilan. Jangan berebut hadiah.

    Perilaku Positif:

    • Harus bersama-sama mengerjakan kemuliaan, melalui: perbuatan, ucapan dan itikad yang bijaksana.

    Kandungan Nilai:

    • Seorang ayah/orang tua harus menjadi kebanggaan puteranya/keturunannya.
    • Melaksanakan ajaran yang benar secara konsisten akan mewujudkan ketenteraman dan keadilmakmuran. Hidup jangan serakah.
    • Kemuliaan itu akan tercapai bila dilandasi dengan tekad, ucap dan lampah yang baik dan benar. (tekad = itikad; ucap = ucapan, perkataan; lampah = aktualisasi, perilaku yang nyata).

  7. HALAMAN 7

    Pegangan Hidup:
    • Kita akan menjadi orang terhormat dan merasa senang bila mampu menegakkan agama/ajaran. Kita akan menjadi orang terhormat/bangsawan bila dapat menghubungkan kasih sayang/silaturahim dengan sesama manusia. Itulah manusia yang mulia.
    • Dalam ajaran patikrama (etika), yang disebut bertapa itu adalah beramal/bekerja, yaitu apa yang kita kerjakan. Buruk amalnya ya buruk pula tapanya, sedang amalnya ya sedang pula tapanya; sempurna amalnya/kerjanya ya sempurna tapanya. Kita menjadi kaya karena kita bekerja, dan itu berhasil tapanya. Orang lainlah yang akan menilai pekerjaan/ tapa kita.

    Perilaku Positif:

    • Perbuatan, ucapan dan tekad harus bijaksana. Harus bersifat hakiki. Harus bersungguh-sungguh. Harus memikat hati. Murah senyum; berseri hati; mantap bicara.

    Perilaku Negatif:

    • Jangan berkata berteriak. Jangan berkata menyindir-nyindir. Jangan menjelekkan sesama orang. Jangan berbicara mengada-ada.

  8. HALAMAN 8

    Pegangan hidup:
    • Bila orang lain menyebut kerja kita jelek, yang harus disesali adalah diri kita sendiri.
    • Adalah tidak benar, karena takut dicela orang, lalu kita tidak bekerja/bertapa.
    • Tidak benar pula bila kita berkerja hanya karena ingin dipuji orang.
    • Orang yang mulia itu adalah yang sempurna amalnya, dia akan kaya karena hasil tapanya itu. Camkan ujaran para orang tua agar masuk surga di kahiyangan.
    • Kejujuran dan kebenaran itu ada pada diri sendiri. Itulah yang disebut dengan kita menyengaja berbuat baik.

    Perilaku Positif:

    • Yang disebut orang yang berkemampuan itu adalah oang yang cekatan, terampil, tulus hati, rajin, tekun, bertawakal, tangkas, bersemangat, perwira/berjiwa pahlawan, cermat, teliti, penuh keutamaan/berani tampil. Yang dikatakan ini semuanya disebut orang yang “Berhasil tapanya. Benar-benar orang yang kaya. Kesempurnaan amal yang mulia.

  9. HALAMAN 9

    Pegangan Hidup:
    • Perlu diketahui bahwa yang mengisi neraka itu adalah manusia yang suka mengeluh karena malas beramal; banyak yang diinginkannya tetapi tidak tersedia di rumahnya; akhirnya meminta-minta kepada orang lain.

    Perilaku Negatif:

    • Arwah yang masuk ke neraka itu dalam tiga gelombang, yaitu manusia yang mempunyai karakter: Pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, lamban,lengah, mudah tersinggung/babarian, kurang semangat, gemar tiduran, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalu berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, sulit hati, rumit mengesalkan, aib, nista.

    Kandungan Nilai:

    • Manusia perlu menyadari keadaan dirinya.
    • Jangan konsumtif tetapi harus produktif dan pro-aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif.
    • Karater yang negatif membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

  10. HALAMAN 10

    Pegangan Hidup:
    • Orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya selalu akan meminta dikasihani orang lain. Itu sangat tercela.
    • Orang pemalas seibarat air di daun talas, plin-plan namanya. Jadilah dia manusia pengiri bila melihat keutamaan orang lain.
    • Amal yang baik seperti ilmu padi makin lama makin merunduk karena penuh bernas.
    • Bila setiap orang berilmu padi maka kehidupan masyarakat pun akan seperti itu.
    • Janganlah meniru padi yang hampa, tengadah tapi tanpa isi.
    • Jangan pula meniru padi rebah muda, hasilnya nihil, karena tidak dapat dipetik hasilnya.

    Kandungan Nilai:

    • Minta dikasihani orang itu adalah tercela.
    • Manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia, sehingga kualitas dirinya prima, seperti padi yang bernas.
    • Orang yang pongah, tidak berilmu dan berkarakter rendah tak ubahnya seperti padi hampa.

  11. HALAMAN 11

    Pegangan Hidup:
    • Orang yang berwatak rendah, pasti tidak akan hidup lama.
    • Sayangilah orang tua. Bertanyalah kepada orang-orang tua tentang hukum para leluhur, agar hidup tidak tersesat.
    • Ada dahulu (masa lampau) maka ada sekarang (masa kini), tidak akan ada masa sekarang kalau tidak ada masa yang terdahulu.
    • Ada pokok (pohon) ada pula batangnya, tidak akan ada batang kalau tidak ada pokoknya.
    • Bila ada tunggulnya maka tentu akan ada batang (catang)-nya
    • Ada jasa tentu ada anugerahnya. Tidak ada jasa tidak akan ada anugerahnya.
    • Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia.

  12. HALAMAN 12

    Pegangan Hidup:
    • Perbuatan yang berlebihan akan menjadi sia-sia, dan akhirnya sama saja dengan tidak beramal yang baik.
    • Orang yang terlalu banyak keinginannya, ingin kaya sekaya-kayanya, tetapi tidak berkarya yang baik, maka keinginannya itu tidak akan tercapai.
    • Ketidakpastian dan kesemerawutan keadaan dunia ini disebabkan karena salah perilaku dan salah tindak dari para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, para orang kaya; semuanya salah bertindak, termasuk para raja di seluruh dunia.

  13. HALAMAN 13

    Pegangan Hidup:
    • Keinginan tidak akan tercapai tanpa berkarya, tidak punya keterampilan, tidak rajin, rendah diri, merasa berbakat buruk. Itulah yang disebut hidup percuma saja.
    • Tirulah wujudnya air di sungai, terus mengalir dalam alur yang dilaluinya. Itulah yang tidak sia-sia. Pusatkan perhatian kepada cita-cita yang diinginkan. Itulah yang disebut dengan kesempurnaan dan keindahan.
    • Teguhkan semangat tidak memperdulikan hal-hal yang akan mempengaruhi tujuan kita.

    Perilaku Positif:

    • Perhatian harus selalu tertuju/terfokus pada alur yang dituju.
    • Senang akan keelokan/keindahan.
    • Kuat pendirian tidak mudah terpengaruh.
    • Jangan mendengarkan ucapan-ucapan yang buruk.
    • Konsentrasikan perhatian pada cita-cita yang ingin dicapai.

PUNGKASAN WACANA

Itulah intisari naskah Galunggung (Kropak 632), yang saya sebut pula dengan Amanat Prabuguru Darmasiksa. Kini terpulang kepada kita dalam menelusuri, memilih serta memilah dan mensistemasikan nilai-nilai luhur yang diamanatkan oleh Prabuguru Darmasiksa kepada kita. Khususnya masyarakat Tatar Kuningan, Tatar Sunda, bukankah dengan tegas beliau mengamanatkan bahwa amanatnya ini ditujukan bagi kita semuanya untuk terus berusaha mewujudkan masyarakat yang berbudaya yang Madani Mardhotillah.

Oleh: H.R.Hidayat Suryalaga

* Disampaikan pada Sosialisasi Garapan Dinas Tataruang & Permukiman Prop. Jabar. Di Kab. Kuningan, 17-10-2003

* Makalah pernah disampaikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VI (SIPN-VI) oleh MANASSA Cabang Bandung (Jawa Barat), 12-14 Agustus 2002 di Hotel Puri Khatulistiwa - Jatinangor - Sumedang

Sumber rujukan:

  • Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat. Drs. Saleh Danasasmita dkk. Pemerintah Propinsi Daerah Tk I. Jawa Barat. 1983-1984.
  • Sewaka Darma. Sanghiyang Siksa Kandang Karesian - Amanat Gakunggung. Ayatrohaedi dkk. Depdikbud. 1987.
- KUNINGAN : DENGAN AMANAT SEWAKA DARMA DARI PRABUGURU DARMASIKSA

Wisata Waduk Darma


P
asokan air di Waduk Darma berasal dari beberapa sungai kecil di sekitar Kabupaten Kuningan, seperti Sungai Cinangka dan Sungai Cisalak. Setelah terkumpul di waduk, air tersebut sebagian digunakan untuk irigasi sawah sampai ke Kabupaten ... Apalagi bila menikmatinya sambil duduk di perahu yang mengelilingi pulau mungil bernama Munjul Goong yang ada di tengah-tengah waduk. Waduk Darma merupakan objek wisata yang harus Anda kunjungi. Fasilitas bermain dan layanan perahu ...



Taman Wisata Alam Linggarjati adalah salah satu objek wisata alam di Kabupaten Kuningan. Linggarjati adalah salah satu tempat titik awal pendakian ke Gunung Ciremai. Luas dan letak. Kawasan hutan Linggarjati seluas 11,51 Ha. ...
Pantai ini merupakan salah satu obyek wisata kebanggaan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Obyek wisata ini cukup terkenal berkat panorama alamnya yang indah, udaranya yang sejuk, dan hamparan pasirnya yang luas. ... Waduk Darma nyaéta bendungan nu ayana di beulah kulon kidul Kuningan, persisna di désa Jagara, kacamatan Darma, Kabupatén Kuningan sarta aya dina jalur jalan raya Cirebon-Kuningan-Ciamis. Waduk Darma nempatan aréal nu legana 425 ha, dikuriling ku ...
Waduk Darma jaraknya dari kota Kuningan sekitar 11 km atau 173 km dari Bandung, di tepi jalan raya Kuningan-Ciamis. Rekreasi di sini tempat rekreasi ski air, perahu dayung dan memancing, juga sarana tempat bremain anak- sangkanurip ... Selain obyek-obyek wisata, di Kabupaten Kuningan terdapat berbagai upacara adat seperti seren taun (upacara sehabis panen|), saptonan (lomba ketangkasan naik kuda), cing cowong (upacara minta hujan), sedekah mawar (diselenggarakan berkenaan ...
Tempat wisata yang sering dikunjungi oleh para wisatawan diantaranya adalah Curug Sidomba, Cibulan, Museum Linggarjati, Waduk Dharma, dan lain sebagainya. MUSEUM LINGGARJATI. Perundingan Linggajati adalah suatu perundingan antara ... Minum (PDAM) Kuningan dan dimanfaatkan Pertamina untuk memasok kebutuhan air bersih di dua kompleks miliknya, yaitu Padang Golf Ciperna di Kota Cirebon, dan Kantor Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat (DOH JBB) di Klayan, Kabupaten Cirebon. ...
Cukang Taneuh atau Green Canyona dalah salah satu objek wisata di Jawa Barat yang terletak di Desa Kertayasa Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis ± 31 km ... ... Waduk Darma nyaéta bendungan nu ayana di beulah kulon kidul Kuningan, persisna di désa Jagara, kacamatan Darma, Kabupatén Kuningan sarta aya dina jalur jalan raya Cirebon-Kuningan-Ciamis. Waduk Darma nempatan aréal nu legana 425 ha, dikuriling ku pasir jeung lembah sarta pamandangan nu éndah kalayan hawa anu ...
Waduk wadaslintang di Desa Sendang Dalam, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen memiliki aneka fungsi. Menempati areal ± 147 hektar dengan kedalaman 38 meter, waduk ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obyek wisata andalan. ... Waduk Darma terletak di sebelah barat daya dari kota Kuningan, tepatnya di desa Jagara- Kecamatan Darma dan pada lintasan jalan raya Cirebon-Kuningan-Ciamis. Menempati areal seluas ± 425 ha, dikelilingi oleh bukit dan lembah serta ...
Waduk Darma. Waduk Darma nyaéta bendungan nu ayana di beulah kulon kidul Kuningan, persisna di désa Jagara, kacamatan Darma, Kabupatén Kuningan sarta aya dina jalur jalan raya Cirebon-Kuningan-Ciamis. Waduk Darma nempatan aréal nu legana ... Nah, itulah sebagian kecil dari obyek wisata yang ada di Kabupaten Cianjur, sebenarnya masih banyak lagi obyek wisata menarik lainnya, seperti Kebun Strawberry yang ada di daerah Pacet, Pantai Jayanti, Curug Citambur dan lain-lain. ...
Taman Wisata Alam Linggarjati adalah salah satu objek wisata alam di Kabupaten Kuningan. Linggarjati adalah salah satu tempat titik awal pendakian ke Gunung Ciremai. Luas dan letak. Kawasan hutan Linggarjati seluas 11,51 Ha. ... Waduk Darma nyaéta bendungan nu ayana di beulah kulon kidul Kuningan, persisna di désa Jagara, kacamatan Darma, Kabupatén Kuningan sarta aya dina jalur jalan raya Cirebon-Kuningan-Ciamis. Waduk Darma nempatan aréal nu legana 425 ha, dikuriling ku ...
Telaga Remis adalah salah satu objek wisata alam di Kabupaten Kuningan. Talaga Remis merupakan sebuah danau yang terletak di Desa Kaduela, Kuningan, berjarak ±37 km dari pusat kota Kuningan. Nama danau ini diambil dari binatang remis, ... Waduk Dharma. Objek wisata ini terletak pada lintasan jalan raya Cirebon- Kuningan –Ciamis. Waduk Dharama selain berfungsi sebgai bendungan berfungsi juga sebagai tempat rekreasi yang dilengkapi dengan areal perkemahan, cottage, ...
- Wisata Waduk Darma

Situs-Situs Tua Kuningan dan Budaya Kaki Ciremai yang Sarat Pesan

cipari kuningan

Situs-situs Tua Kuningan
Budaya Kaki Ciremai yang Sarat Pesan


k
elurahan Cipari Kecamatan Cigugur adalah salah satu tempat ditemukannya peninggalan kebudayaan prasejarah di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Selain Cipari, ada paling sedikit delapan tempat di sekitar kaki gunung Ciremai yang terdapat peninggalan bercorak Megalitik, Klasik, Hindu-Buddha, dan kolonial Belanda.

Di Cipari sendiri ditemukan tiga peti kubur batu yang di dalamnya terdapat bekal kubur berupa kapak batu, gelang batu, dan gerabah. Bekal kubur ini masih tersimpan dalam bangunan museum. Di dalam peti tidak ditemukan kerangka manusia, karena tingkat keasaman dan kelembapan tanah yang terletak 661 meter dpl itu terbilang tinggi, sehingga tulang yang dikubur mudah hancur.

Area ditemukannya artefak-artefak batu dan gerabah masih tertata baik, juga tingkat kedalaman benda-benda itu terkubur masih orisinal. Peti kubur yang terbuat dari batu indesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula. Mengarah ke timur laut barat daya yang menggambarkan konsep-konsep kekuasaan alam, seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup dari lahir sampai meninggal.

Peti kubur batu yang ada situs purbakala Cipari ini memiliki kesamaan dengan fungsi peti-peti kubur batu di wilayah-wilayah lain di Indonesia. Masyarakat Sulawesi Utara menyebut peti kubur batu sebagai waruga, masyarakat Bondowoso menyebutnya pandusa, dan masyarakat Samosir menyebutnya tundrum baho.

Ada pula tanah lapang berbentuk lingkaran dengan diameter enam meter dengan dibatasi susunan batu sirap, di tengah-tengahnya terdapat batu. Tempat yang bernama Batu Temu Gelang ini adalah lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di kawasan ini juga ada altar batu (punden berundak), yakni bangunan berundak-undak yang di bagian atasnya terdapat benda-benda megalit atau makam seseorang yang dianggap tokoh dan dikeramatkan. Altar ini berfungsi sebagai temapt upacara pemujaan arwah nenek moyang.

Di ketinggian tertentu terdapat pula menhir, yakni batu tegak kasar sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan. Ada pula dolmen (batu meja) yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batu lain sehingga berbentuk meja. Fungsi dolmen sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang sekaligus tempat peletakan sesaji. Terdapat juga batu dakon (lumpang batu), yakni batu berlubang satu atau lebih, berfungsi sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan.

Luas Situs Taman Purbakala Prasejarah Cipari 6.364 meter persegi. Artefak-artefak, yakni peti kubur batu, gerabah, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu, dan manik-manik ditemukan pada beberapa kali penggalian.Berdasar temuan itulah situs ini diduga berasal dari masa perundagian (paleometalik atau perunggu-besi) yang masih melanjutkan tradisi megalitik, sekitar tahun 1.000—500 SM. Saat itu masyarakat sudah mengenal cocok tanam dan organisasi yang baik.

Walaupun ditemukan artefak-artefak namun temuan ini tidak dapat menjelaskan siapa yang dikubur dalam tiga peti kubur batu itu dan bagaimana ciri-ciri fisiknya, selain diperkirakan tiga orang itu adalah pemuka masyarakat.

Situs Museum Taman Purbakala Cipari berada di lingkungan Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Terletak di daerah berbukit dengan ketinggian 661 meter dpl, di kaki gunung Ciremai bagian timur dan bagian barat kota Kuningan. Cipari berjarak 4 kilometer dari ibukota Kuningan dan 35 kilometer dari kota Cirebon.

Area ini sebelumnya adalah tanah milik Bapak Wijaya serta milik beberapa warga lainnya. Pada tahun 1971, Bapak Wijaya menemukan batuan yang setelah diteliti ternyata peti kubur batu, kapak batu, gelang batu, dan gerabah. Setelah diadakan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak tahun 1972, tiga tahun kemudian diadakan penggalian total. Setahun kemudian dibangun Situs Museum Taman Purbakala Cipari. Pada 23 Februari 1978 museum diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Syarif Thayeb.

paseban tripancatunggal

Paseban Tri Panca Tunggal
Masih di Kecamatan Cigugur, tepatnya di Jalan Raya Cigugur No. 1031 Kuningan terdapat cagar budaya nasional Gedung Paseban Tri Panca Tunggal. Gedung anggun bercat putih dengan deretan jendela besar sepanjang dindingnya.

Paseban Tri Panca Tunggal didirikan tahun 1860 oleh Kiai Madrais, nama yang dikenal luas oleh masyarakat Jawa Barat sebagai pemimpin aliran agama Djawa Sunda atau adat cara Karuhun Urang atau Sunda Wiwitan, aliran kepercayaan terhadap ajaran leluhur masyarakat Sunda. Aliran penghayat yang tidak memeluk satu pun agama di Indonesia.

Di tempat inilah cucu Kiai Madrais, Djatikusumah, mukim bersama keluarganya (40 orang termasuk Emilia sang istri, delapan orang anak kandung, dan puluhan anak asuh), meneruskan ajaran leluhur. Sejak tahun 1970-an, Paseban Tri Panca Tunggal ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.

Setiap tahun, yakni tanggal 18 hingga 22 Rayagung menurut penanggalan Sunda, ratusan orang datang ke tempat ini merayakan rangkaian acara Seren Taun, ungkapan rasa syukur masyarakat agraris Sunda terhadap Gusti Yang Widi Wasa atas hasil panen.

Meski acara ini awalnya diadakan masyarakat penghayat agama Djawa Sunda namun semakin lama semakin beragam umat yang ikut merayakan, komunitas multiagama. Yang datang juga bukan hanya masyarakat Kuningan, namun ikut pula utusan masyarakat Baduy Kanekes Banten, Dayak Losarang Indramayu, Ciptagelar Sukabumi, Kampung Naga Tasikmalaya, Using, hingga perwakilan dari Aceh. Masyarakat penghayat di daerah Cigugur memang semakin lama semakin sedikit jumlahnya, sekarang malah menjadi golongan minoritas di antara penganut-penganut agama yang diakui negara.

Pada masa Orde Baru, upacara Seren Taun pernah dihentikan selama 17 tahun karena dianggap aliran sesat. Mulai tahun 1999 upacara ini mulai diadakan lagi. Seren Taun berikutnya diadakan 8—12 Januari 2007.

Kekhasan Gedung Paseban Tri Panca Tunggal adalah pilar-pilar besar dengan hiasan naga dan awan pada bagian dasarnya, menyangga langit-langit yang terbuat dari kayu. Kompleks bangunannya terdiri dari beberapa bangunan dan ruang yang menghadap ke arah barat. Peletakan ini merupakan lambang perjalanan matahari, diartikan bahwa dalam pergelaran hidup ada lahir dan mati.

Bangunan inti Paseban terdiri dari Ruang Jinem, Pendopo Pagelaran, Sri Manganti (bagian depan padaleman), dan Dapur Ageung.

Ruang Jinem membujur arah utara-selatan. Pada masa dulu ruang ini dipakai sebagai tempat saresehan/ ceramah untuk memperdalam pengertian hidup dan kehidupan serta mengenal dan merasakan adanya cipta, rasa, dan karsa.

Di Ruang Pendopo dapat ditemui banyak perlambang ajaran Kiai Madrais, seperti relief bertuliskan aksara Sunda, Purwa Wisada, yang berarti cipta dan karsa adalah ketentuan sebagai hukum kodrati. Ada pula burung garuda di atas lingkaran yang ditunjang dua ekor naga yang saling terkait, melambangkan harus adanya pengertian antara pria dan wanita dalam menghadapi hidup.

Ruang Sri Manganti adalah sebagian dari ruangan Padaleman (ruang lebet) yang membujur dari utara ke selatan. Tempat ini digunakan untuk penyelenggaraan upacara-upacara pernikahan, untuk merundingkan masalah seperti persiapan upacara Seren Taun, dan memecahkan masalah-masalah keluarga.

Dalam ruangan ini pula ditempatkan Bale Kancana, yakni pelaminan khusus keluarga yang pada masa dulu sebagai palinggihan. Ruang padaleman berbentuk segi empat yang di tengahnya terdapat sebuah ruangan yang merupakan bangunan tersendiri. Bangunan tengah ini merupakan ruang tempat penyimpanan buku-buku sejarah dan keagamaan dari segala agama.

Dapur Ageung adalah tungku perapian terbuat dari semen yang di empat sudutnya terdapat naga bermahkota. Hal ini menggambarkan adanya perikemanusiaan (mahkota) mengatasi nafsu yang harus diarahkan dalam bimbingan kehalusan budi manusia.

Adanya Dapur Ageung seringkali dijadikan alasan pihak lain menuding bahwa Kiai Madrais dan pengikutnya sebagai orang-orang penyembah api dan bersembahyang di depan api. Padahal tudingan itu sama sekali tidak beralasan.

Dua kali seminggu di Paseban Tri Panca Tunggal diadakan pelatihan keterampilan menari, menembang, dan dongeng bagi siswa-siswi TK hingga SMA. Selain itu diajarkan pula pelajaran budi pekerti, hal mata pelajaran yang sudah bertahun-tahun dihilangkan dari kurikulum sekolah. Bagi ibu-ibu diajarkan membatik motif khas Cigugur, motif yang sudah lama terlupa.

Selain pada perayaan Seren Taun, pintu Paseban terbuka lebar bagi masyarakat yang ingin berkunjung. Baik itu sekadar melihat-lihat fisik gedung, memancing, belajar membatik, atau berdiskusi dengan Djatikusumah.

Keramahan Djatikusumah dan keluarga membuat perbincangan yang berjam-jam terasa singkat. Apalagi sambil ditemani suguhan kampung berupa labu rebus, ubi rebus, pisang goreng, serta secangkir kopi di tengah kesejukan angin Gunung Ciremai saat senja, hmmm… tiada banding nikmatny

- Situs-Situs Tua Kuningan dan Budaya Kaki Ciremai yang Sarat Pesan

Di Kab Kuningan Ada Ikan Dewa

Masyarakat Kab Kuningan memiliki mitos ikan dewa yang terdapat di Balong Keramat di Kec Cigugur, Darmaloka, Desa Ragawacana Kec Kramatmulya. Desa Sidamulya dan Manis Kidul Kec Jalaksana serta di Kec Pasawahan. Ikan dewa oleh masyarakat sekitar tidak pernah diganggu. Apalagi dipancing untuk dikonsumsi.

Mitos tersebut terpelihara sampai sekarang. Dampaknya, banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke Kuningan sekedar ingin mengetahui ikan dewa. Padahal jenis ikannya sama dengan ikan emas. Hanya perbedaannya habitatnya berada di air bersuhu dingin dan berasal dari sumber mata air.

Menurut sumber lisan masyarakat. Keberadaan ikan dewa tidak terlepas dari Rama Haji Irengan. Salah satu ulama yang menyebarkan Islam di Kab Kuningan sekitar abad ke 15. Ia adalah seorang catrik (santri) yang belajar agama Islam pada Sunan Gunung Djati di Cirebon.

Dikirimnya Rama Haji Irengan, sebagai tindaklanjut penyebaran Islam di wilayah Kuningan sebelah selatan yang masih memeluk agama Hindu-Budha. Penyebarannya tidak saja di wilayah selatan. Namun ke utara pun dikerjakan. Mulai Kec Darma sampai Pasawahan.

Saat penyebaran itu, Rama Haji Irengan membuat balong (kolam-red) sebagai tanda masyarakatnya sudah Islam. Membuat kolam itu dilakukannya dalam satu malam dan langsung ditanami ikan. Ikan itu lah yang sampai sekarang disebut ikan dewa dan tidak boleh dimakan oleh siapa pun.

Enok (48) warga Kel/Kec Cigugur pada Pelita menyebutkan. “Masyarakat di sekitar sini (Cigugur-red) tidak ada yang berani mengganggu ikan dewa. Pernah suatu ketika, ikan dewa dari Balong Keramat Cigugur diambil oleh petugas dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta untuk ditangkarkan di sana,” ucapnya.

Lanjutnya, “yang saya tahu, ikan di Balong Kramat terlihat stres semua. Berdasarkan kebiasaan, ikan tidak berani muncul ke atas permukaan air. Hal itu berlangsung lama. Ketika ikan dibawa, saya juga ikut sedih. Bagaimana tidak sedih, ikan sebesar bayi yang setiap hari dilihat dibawa,” ungkapnya.

Namun dirinya tidak tahu kelanjutannya, apakah ikan yang dibawa ke TMII itu sekarang masih hidup atau tidak. Enok masih percaya ikan dewa selalu berpindah tempat jika di salah satu balong kramat mengalami air surut. Ia pun memberikan contoh. Ketika balong Cigugur dikuras, ikannya tidak ada.

“Ada waktunya ikan itu pindah ke tempat lain. Seperti dari Balong Kramat Cigugur ke Cibulan (Manis Kidul-red). Begitu pun sebaliknya. Soalnya jumlah ikannya tidak pernah berkurang maupun bertambah. Tetap saja segitu,” ucapnya.

Suryono, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kab Kuningan menyebutkan. Ikan dewa merupakan khasanah budaya masyarakat Kuningan. Hal itu berlangsung ratusan tahun lalu yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik.

Tidak saja berupa ikannya, kata Suryono, termasuk folklornya pun tetap lestari. “Memang banyak keunikan dari ikan dewa sehingga banyak pengunjung dari luar kota yang hanya sekedar melihatnya,” ungkapnya.
- Di Kab Kuningan Ada Ikan Dewa

Sejarah Kota Bogor

ISTANA BOGOR

ISTANA BOGOR bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa “Bogor” berarti pohon kawung dan kata kerja “dibogor” berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun kaung. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, L “Bogor” berarti “droogetapte kawoeng” (pohon enau yang telah habis disadap) atau “bladerlooze en taklooze boom” (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”.
Akan tetapi dalam bahasa Sunda “muguran” dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti “pamogoran” bisa dianggap terlalu iseng.

Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709. Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda terah Sumedang.

Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya.

Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung, De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745.

Pada tahun 1745 Bogor ditetapkan Sebagai Kota Buitenzorg yang artinya kota tanpa kesibukan dengan sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang, daerah tersebut disebut Regentschap Kampung Baru yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff (1740) dibangunlah tempat peristirahatan, pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg.

Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor (sampai sekarang) Pada tahun 1808, Bogor diresmikan sebagai pusat kedudukan dan kediaman Resmi Gubernur Jenderal. Tahun 1904 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 4 tahun 1904 Hoofplaats Buitenzorg mencantumkan luas wilayah 1.205 yang terdiri dari 2 Kecamatan & 7 Desa, diproyeksikan untuk 30.000 Jiwa .

Pada tahun 1905 Buitenzorg diubah menjadi GEMMENTE berdasarkan Staatblad 1926 yg kemudian disempurnakan dengan Staatblad 1926 Nomor 328.
Tahun 1924 dengan keputusan Gubernur Jendral Van Nederland Indie Nomor 289 tahun 1924 ditambah dengan desa Bantar jati dan desa Tegal Lega seluas 951 ha, sehingga mencapai luas 2.156 ha, diproyeksikan untuk 50.000 Jiwa.

gouvernements-inlandse-school-1910

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1941, Buitenzorg secara resmi lepas dari Batavia dan mendapat otonominya sendiri. Keputusan dari gubernur Jendral Belanda di Hindia Belanda No. 11 tahun 1866, No. 208 tahun 1905 dan No. 289 tahun 1924 menyebutkan bahwa wilayah Bogor pada waktu itu seluas 22 Km persegi, terdiri dari 2 sub distrik dan 7 desa.

Berdasarkan UU No. 16 tahun 1950 Kota Bogor ditetapkan menjadi Kota besar dan Kota Praja yang terbagi dalam 2 wilayah Kecamatan & 16 lingkungan. Tahun 1981 jumlah Kelurahan menjadi 22 Kelurahan, 5 kecamatan & 1 Perwakilan kecamatan.
Terakhir berdasarkan PP. No. 44/1992 Perwakilan Kecamatan Tanah Sareal ditingkatkan statusnya menjadi Kecamatan, Kini terdapat 6 Kecamatan dan 68 Kelurahan.

Ditengah-tengah kota terdapat Kebun Raya Bogor yang dibangun sejak Tahun 1817 oleh seorang ahli botani yaitu Prof. Dr. RC. Reinwardth dengan luas 87 Ha dan terdapat 20.000 jenis tanaman yang tergolong dalan 6000 Species dan merupakan Kebun Raya terbesar di Asia Tenggara.
- Sejarah Kota Bogor

Sejarah Kab.Kuningan

Kabupaten Kuningan, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Ibukotanya adalah Kuningan. Letak astronomis kabupaten ini di antara 108°23 - 108° 47 Bujur Timur dan 6°45 - 7°13 Lintang Selatan. Kabupaten ini terletak di bagian timur Jawa Barat, berbatasan dengan Kabupaten Cirebon di utara, Kabupaten Brebes (Jawa Tengah) di timur, Kabupaten Ciamis di selatan, serta Kabupaten Majalengka di barat. Kabupaten Kuningan terdiri atas 32 Kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 361desa dan 15 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Kuningan.

Bagian timur wilayah kabupaten ini adalah dataran rendah, sedang di bagian barat berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Ciremai (3.076 m) di perbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat.

Kabupaten Kuningan terbagi dalam beberapa wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Darma, Kadugede, Nusaherang, Ciniru,Hantara, Selajambe, Subang, Cilebak, Ciwaru, Karangkancana, Cibingbin, Cibeureum, Luragung, Cimahi, Cidahu, Kalimanggis, Ciawigebang, Cipicung, Lebakwangi, Maleber, Garawangi, Sindang Agung, Kuningan, Cigugur, Kramatmulya, Jalaksana, Japara, Cilimus, Cigandamekar, Mandirancan, Pancalang, dan Pasawahan.

SEJARAH

Sang Adipati Kuningan Adalah Putra Luragung

Menelusuri jejak sejarah Kabupaten Kuningan, terutama membedah tokoh “Sang Adipati Kuningan” yang pernah menjadi pemimpin pemerintahan di Kuningan pada masa penyebaran Islam di Cirebon (Jawa Barat) dan sekitarnya akhirnya dapatlah diungkapkan bahwa nama Sang Adipati Kuningan yang sebenarnya adalah SURANGGAJAYA. Ia adalah putra Ki Gedeng Luragung (seorang kepala daerah di Luragung) bernama JAYARAKSA. Jayaraksa juga punya saudara laki-laki yang memimpin daerah Winduherang bernama BRATAWIYANA atau BRATAWIJAYA (?) yang dijuluki juga Ki Gedeng Kamuning atau Arya Kamuning.

Ketika Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam, di antaranya sampai pula ke Luragung, beliau disusul kedatangannya ke Luragung oleh istrinya bernama putri Ong Tien (asal Campa) yang juga bernama Nyai Rara Sumanding. Ketika itu sang istri sedang mengandung tua, dan di Luragung pulalah akhirnya Nyai Rara Sumanding melahirkan anak. Namun sayang putra yang baru dilahirkannya itu meninggal dunia. Untuk mengobati hati beliau yang sedang berduka itu, kemudian Sunan Gunung Jati meminta kepada Ki Gedeng Luragung untuk memungut putranya yang kebetulan masih bayi untuk diangkat anak oleh Sunan Gunung Jati. Anak tersebut namanya Suranggajaya.

Dalam cerita rakyat Kuningan versi lainnya yang berbau mitos menyebutkan bahwa yang dilahirkan oleh Nyai Rara Sumanding bukanlah anak, tetapi sebuah bokor yang terbuat dari logam Kuningan. Bokor Kuningan inilah yang nantinya menjadi logo maskot Kota Kuningan, selain Kuda Kuningan. Juga ada yang menyebutkan bokor kuningan itu sebagai barang “panukeur” atawa “tutukeuranna” antara bayi dari Ki Gedeng Luragung yang ditukar dengan bokor kuningan dari Nyai Rara Sumanding. Cerita-cerita mitos ini memang banyak mewarnai dalam penelusuran sejarah Kuningan.

Setelah ke Luragung perjalanan Sunan Gunung Jati diteruskan ke Winduherang (yang dulu diduga sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Kuningan/Kajene) untuk menemui saudaranya Jayaraksa yaitu Bratawiyana yang rupanya telah lebih dulu masuk Islam. Sementara itu pemegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Kuningan saat itu sedang diperintah oleh Nyai Ratu Selawati (keturunan Prabu Langlangbuana). Ratu Selawati yang tadinya penganut Hindu menjadi penganut Islam setelah menikah dengan Syekh Maulana Arifin (putra dari Syekh Maulana Akbar). Syekh Maulana Akbar sendiri adalah seorang ulama yang diduga asal Persia yang berhasil sampai ke Kuningan dan menyebarkan Islam di sana. Kedatangannya ke Kuningan waktu itu kiranya terlebih dahulu atas seijin Sunan Gunung Jati penguasa Kerajaan Islam Cirebon yang mulai tumbuh dan giat menyebarkan Islam. Kedatangannya Syekh Maulana Akbar menyebarkan Islam ke Kuningan berarti lebih dulu daripada Sunan Gunung Jati. Mungkin dapat dikatakan Syekh Maulana Akbar sebagai perintis penyebaran Islam ke Kuningan, sementara Sunan Gunung Jati lebih menyempurnakan lagi. Kurun waktu kedatangan Syekh Maulana Akbar menyebarkan Islam di Kuningan diperkirakan mulai terjadi tahun 1450.

Ketika Sunan Gunung Jati sampai di Winduherang, beliau menitipkan putra angkatnya tersebut (Suranggajaya) untuk diasuh oleh Bratawiyana (Arya Kamuning). Selain itu Sunan Gunung Jati berpesan bahwa anak tersebut setelah dewasa kelak akan diangkat menjadi penguasa daerah Kuningan. Dalam masa pengasuhan Arya Kamuning ini bahkan anak yang dititipkan itu diberi nama panggilan Raden Kamuning, kiranya untuk lebih mendekatkan hubungan psikologis (batin) antara ayah (asuh) dengan putra (asuh)nya.

Dalam sumber berita Cirebon (CPCN/Carita Purwaka Caruban Nagari) dan buku karya P.S Sulendraningrat bahkan disebutkan lagi bahwa bersamaan dengan mengasuh putra angkat Sunan Gunung Jati, sebenarnya Bratawiyana (Arya Kamuning) juga punya anak yang sedang sama-sama dibesarkan (seusia dengan Suranggajaya) yaitu Ewangga. Tetapi di sumber lain menyebutkan bahwa tokoh Dipati Ewangga adalah seorang bangsawan yang asalnya dari Parahyangan (Cianjur) yang pada awalnya ingin berguru/belajar agama Islam kepada Sunan Gunung Jati, lalu oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk pergi ke Kuningan saja membantu putra angkatnya (yaitu Suranggajaya) dalam mengelola pemerintahan di Kuningan. Mana yang benar, yang jelas keberadaan tokoh Dipati Ewangga kiprahnya banyak diceriterakan sebagai tokoh “panglima” tentara Kuningan yang pernah ikut membantu Cirebon dan Mataram ketika menyerang Belanda di Batavia (sehingga ada nama perkampungan Kuningan di Jakarta).

Setelah dewasa, menginjak usia 17 tahun, akhirnya janji Sunan Gunung Jati mengangkat putranya menjadi penguasa di Kuningan pun dilakukan. Suranggajaya kemudian dilantik menjadi pemimpin Kuningan dengan julukan populernya Sang Adipati Kuningan. Titimangsanya konon bertepatan dengan tanggal 1 September 1478, yang diperingati sebagai hari lahirnya kota Kuningan.

Namun bila dilihat secara politis, sebenarnya sejak saat itu sebenarnya “Kerajaan” Kuningan telah jatuh. Tidak lagi sebagai kerajaan yang berdaulat penuh atau merdeka, tetapi terikat menjadi daerah bawahan Kerajaan Cirebon. Berarti kalau kita lihat eksistensi perjalanan Kerajaan Kuningan sejak zaman Hindu dari awal kelahirannya, bernama Kerajaan Kuningan (raja: Sang Pandawa) - Kerajaan Saunggalah (raja: Demunawan/Rahangtang Kuku/Seuweukarma) merupakan kerajaan berdaulat penuh. Kemudian dibawahkan oleh Kerajaan Galuh (raja: Rhy Banga), lalu muncul lagi dijadikan pusat pemerintahan oleh putra Rakeyan Darmasiksa, yaitu Prabu Ragasuci/Sang Lumahing Taman. Selanjutnya di bawah penguasaan Sunda Padjajaran oleh Prabu Siliwangi. Lalu muncul Kerajaan Kuningan dengan sebutan Kajene zaman Prabu Langlangbuana/Langlangbumi dan diturunkan kepada Ratu Selawati (kerajaan kecil di bawah pengaruh Kerajaan Sunda Pajajaran), dan akhirnya ketika diperintah Sang Adipati Kuningan, pemerintahan kerajaan jatuh di bawah pengaruh Kerajaan Cirebon.

- Sejarah Kab.Kuningan

Kota Terindah

Kabupaten Kuningan
Provinsi Jawa Barat
pengunjung yang datang ke Waduk Darma, Kuningan, disarankan tidak bersama kekasihnya. Hati-hati, bisa-bisa hubungan itu putus sepulang dari sana nanti! Mitos itu berkembang di kalangan penduduk Kabupaten Kuningan, terutama kaum muda. Sama seperti yang dikenal dan beredar di kalangan penduduk Bogor dan Jakarta selama ini mengenai Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Waduk Darma di Kabupaten Kuningan ternyata memiliki tradisi takhayul yang sama. Padahal, pemandangan di sekitar bendungan buatan ini sangat indah, terutama di saat matahari terbenam. Jika cuaca cerah, Gunung Ciremai yang anggun pun akan tampak di seberang. Dan bagi mereka yang datang dengan kekasih, tentu amat romantis menghabiskan hari di tempat seperti ini. Apalagi, Kuningan dikenal masih mengandalkan alam sebagai sarana hiburan utama. Rasanya, kawasan indah seluas 425 hektar ini sangat menarik dikunjungi.

Berkeliling di Kuningan memang mengasyikkan. Namun, sebatas di wilayah yang bukan pusat kota, artinya di pinggiran saja. Meski pusat kota tidak terlalu ramai, tetapi jika sudah masuk, terlihat pemandangan sangat khas perkotaan, yaitu pasar atau deretan pertokoan. Tidak ada hal baru yang dapat dinikmati.

Mungkin akan lebih asyik jika berkeliling dengan delman. Angkutan tradisional yang menggunakan tenaga kuda ini banyak ditemukan di wilayah bekas kepemimpinan Pangeran Arya Dipati Kuningan di masa lalu itu-walau mungkin harus dengan berganti-ganti delman untuk menelusuri seluruh wilayah ini, karena tidak mungkin hanya mengandalkan tenaga satu kuda yang tentunya juga terbatas.

Kuda yang diandalkan tenaganya untuk menarik delman ini juga merupakan legenda sehingga dipakai sebagai salah satu unsur dalam lambang daerah. Menurut kepercayaan setempat, Pangeran Arya Dipati Kuningan mempunyai tunggangan seekor kuda keturunan jenis sembrani bernama Windu. Si Windu adalah kuda kecil namun tangkas dan cerdik. Hasilnya, hingga kini kuda di Kuningan dimanfaatkan tenaganya untuk menarik delman.

Di wilayah ini, delman membantu transportasi penduduk yang ingin bepergian jarak pendek. Penduduk yang ingin bepergian cukup jauh disediakan mobil angkot. Jadi, pemakai angkot tidak terlalu berebut dengan penumpang jarak dekat.

Kuningan memang berbeda dengan wilayah tetangganya seperti Cirebon, Majalengka, dan Indramayu yang banyak memiliki becak. Diwilayah seluas 1.117 km² yang terletak di kaki Gunung Ciremai ini sulit sekali bahkan nyaris tidak dijumpai becak. Rasanya wajar tidak ada yang ingin mengoperasikan kendaraan roda tiga bertenaga manusia ini di Kuningan, karena topografi di beberapa wilayahnya turun naik berbukit-bukit.

Namun delman tidak cukup banyak ditemukan di wilayah yang berbukit-bukit tersebut. Para kusir lebih senang menunggu calon penumpangnya di kawasan-kawasan ramai di Kuningan semisal pusat pertokoan di Jalan Sliwangi. Meski terkadang harus berputar karena jalan utama sepanjang Jalan Sliwangi itu hanya satu arah dari pagi hingga jam enam sore . Namun peminat delman tetap banyak karena rute bisa dipesan sesuai tujuan. Bahkan, jika nakal sedikit saja, kusir bisa menjalankan delmannya dengan menentang arus alias memakai dua arah, padahal belum waktunya.

Jalan utama yang juga melalui kantor Bupati Kuningan ini memang istimewa. Hampir semua rute angkot melaluinya. Bisa saja karena ada pusat pertokoan. Yang dinamakan pusat pertokoan di Kuningan jangan dibayangkan seperti plaza-plaza besar di Jakarta, Surabaya, atau kota-kota besar lain di Indonesia. Di sana baru ada tiga toserba yang tidak terlalu besar. Letaknya pun berdekatan sehingga keramaian kota terkonsentrasi disini. Belum lagi ditambah dengan pasar tradisionalnya. Keramaian dipusat pertokoan ini tidak hanya di hari Sabtu dan Minggu, melainkan setiap hari.

Di dalam kegiatan ekonomi daerah yang berbatasan dengan kawasan industri di Cirebon ini, perdagangan, termasuk di dalamnya hotel dan restoran menempati peringkat kedua. Sebagai wilayah agraris yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari bertani, tentu pertanianlah yang memegang kendali utama. Hingga tahun 2000, penggunaan lahan untuk penanaman padi mencapai hampir 60 persen dari luas wilayah kabupaten, yaitu 66.674 hektar. Dan dari luas panen 66.389 hektar dihasilkan 362.884 ton padi.

Selain padi, andalan lain dari tanaman pangan adalah ubi kayu dan bawang merah. Kedua komoditas ini cukup terkenal di Kuningan. Salah satu cara pengolahan ubi kayu atau singkong ini adalah dengan membuatnya menjadi kripik atau sebagai bahan dasar kue gemblong. Keduanya dijual sebagai oleh-oleh khas dari daerah ini. Kuningan termasuk daerah penghasil utama bawang merah di Jawa Barat.Olahannya berupa bawang goreng juga menjadi ‘bawaan’ pulang pengunjung dari luar kota. Sayangnya, kedua komoditas yang merupakan produk industri rumahan penduduk di sini mempunyai masalah klasik dalam pengembangannya, yaitu permodalan dan pemasaran yang masih lokal.

Tahun 2001, kegiatan ekonomi dari pertanian menghasilkan angka Rp. 871,5 milyar yang didominasi dari tanaman pangan sebesar Rp 662,1 milyar. Untuk perdagangan yang menempati tempat kedua bersama hotel dan restoran menghasilkan Rp 618,7 milyar. Sedangkan, total pendapatan seluruhnya mencapai Rp 2,2 trilyun. Sumbangan lain nilainya di bawah dua puluh persen dari pendapatan.

Sebenarnya, potensi utama Kabupaten Kuningan yang sering dijual dan dipromosikan adalah pariwisatanya. Kota berhawa sejuk tempat terselenggaranya perundingan Linggarjati yang bersejarah itu menawarkan banyak tujuan wisata. Misalnya untuk para arkeolog, terdapat objek penelitian menarik untuk diteliti. Di Taman Purbakala Cipari Kecamatan Cigugur ditemukan peninggalan kebudayaan prasejarah dari zaman neolitikum dan awal zaman perunggu berupa menhir dan peti kubur batu. Artinya kehidupan di sini sudah dimulai sejak masa purbakala ribuan tahun lalu, jauh sebelum zaman Pangeran Arya Dipati Kuningan.

- Kota Terindah